Halaman1

Senin, 31 Desember 2018

Pengertian, Tujuan dan Procedur Penelitian Korelasional



Pengertian Penelitian Korelasional
Gay dalam Sukardi (2008:166) menyatakan penelitian korelasi merupakan salah satu bagian penelitian ex–post facto dimana peneliti tidak memanipulasi keadaan variabel yang ada dan langsung mencari adanya suatu hubungan dan tingkat hubungan variabel yang dinyatakan dalam koefisien korelasi.
Penelitian korelasi merupakan suatu penelitian yang melibatkan kegiatan pengumpulan data untuk menentukan, adakah hubungan dan tingkat hubungan antara 2 variabel atau lebih. Penelitian korelasi dilakukan, saat peneliti ingin mengetahui tentang ada atau tidaknya dan kuat lemahnya suatu hubungan variabel yang berkaitan dalam suatu objek atau subjek yang diteliti. Terdapatnya suatu hubungan dan tingkat variabel ini penting, karena dengan mengetahui tingkat hubungan yang ada, peneliti akan dapat mengembangkannya sesuai dengan tujuan penelitian.
Menurut Sukardi (2008:166) Penelitian korelasi mempunyai 3 karakteristik penting bagi para peneliti yang akan menggunakannya. Tiga karakteristik tersebut, diantaranya yaitu:
1.  Penelitian korelasi tepat bila variabel penelitian tersebut kompleks dan peneliti tidak melakukan manipulasi atau mengontrol variabel seperti pada penelitian eksperimen,
2.  Pengukuran variabel dilakukan secara intensif dalam lingkungan nyata, dan
3.  Memungkinkan peneliti memperoleh derajat asosiasi yang signifikan.

Tujuan Penelitian Korelasional
Penelitian korelasional memiliki tujuan untuk menentukan ada atau tidak adanya hubungan antara dua variabel atau lebih, kearah manakah hubungan tersebut (positif atau negatif), dan seberapa jauh hubungan antara variabel tersebut sehinga dapat membuat prediksi atau perkiraan. Misalkan saja sperti hubungan antara kecerdasan dengan kreativitas, tinggi badan dengan umur, semangat dengan pencapaian, nilai bahasa Inggris dengan nilai statistika, dan sebagainya. Tujuan dari penyelidikan korelasional adalah untuk mengungkapkan atau menetapkan suatu hubungan atau menggunakan hubungan-hubungan dalam membuat prediksi atau prakiraan.
Pada penelitian korelasional, para peneliti umumnya hanya mendasarkan pada penampilan variabel secara natural atau sebagaimana adanya, tanpa memanipulasi atau mengatur kondisi variabel tersebut. Oleh karena itu, peneliti sebaiknya mengetahui cukup banyak alasan yang kuat untuk mempertahankan hasil hubungan yang ditemukan dalam suatu penelitian.
Penelitian korelasi lebih tepat, bila dalam penelitian peneliti memfokuskan usahanya dalam memperoleh informasi yang bisa menerangkan adanya fenomena atau kejadian yang kompleks melalui hubungan antar variabel. Sehingga, peneliti juga mampu melakukan eksplorasi studi menggunakan teknik korelasi parsial, yang mana peneliti mengeliminasi salah satu pengaruh variabel supaya bisa dilihat hubungan dua variabel yang dianggap penting saja.
Dalam bidang pendidikan, studi korelasi umumnya digunakan guna melakukan penelitian terhadap sejumlah variabel yang diperkirakan memiliki peranan yang signifikan dalam mencapai proses pembelajaran. Sebagai contoh, misalnya mengenai pencapaian hasil belajar dengan motivasi internal, intensitas kehadiran mengikuti kuliah, belajar strategi, dan lain sebagainya.
Para peneliti akan tepat menggunakan penelitian korelasi saat peneliti memiliki beberapa alasan penting, di antaranya yaitu sebagai berikut.
    Adanya kebutuhan akan informasi bahwa ada hubungan antarvariabel yang mana koefisien korelasi dapat mencapainya.
    Penelitian korelasi harus memperhitungkan manfaatnya jika variabel yang muncul tersebut kompleks, dan peneliti tidak mungkin bisa melakukan kontrol dan memanipulasi variabel-variabel itu.
    Apabila dalam penelitian memungkinkan untuk melakukan pengukuran beberapa variabel dan hubungan yang ada dalam setting yang realistis. Dan alasan penting lain yaitu bahwa penelitian korelasi tepat dilakukan, bila salah satu tujuan penelitian adalah untuk mencapai formula prediksi, yaitu keadaan yang menunjukkan terdapatnya asumsi hubungan antar variabel.
Metode korelasional memungkinkan untuk para peneliti menganalisis hubungan antara sejumlah besar variabel  dalam suatu studi tunggal. Koefisien korelasi dapat memberikan ukuran tingkat dan arah hubungan. Penggunaan metode korelasional dapat ditujukan (1) untuk mengungkapkan hubungan antarvariabel dan (2) untuk memprediksi skor subjek pada suatu variabel melalui skor pada variabel lain.

Prosedur Dasar Penelitian Korelasional
Prosedur dasar penelitian korelasional dijelaskan lebih lanjut sebagai berikut ini.
1. Pemilihan Masalah
Studi korelasional bisa dirancang untuk menentukan variabel manakah dari suatu daftar variabel yang mungkin berhubungan, maupun untuk menguji hipotesis mengenai suatu hubungan yang diharapkan. Variabel yang dilibatkan dalam penelitian harus dilakukan seleksi berdasarkan penalaran induktif dan penalaran deduktif. Dengan kata lain, hubungan yang akan diteliti dan diselidiki haruslah didukung oleh teori atau diturunkan berdasarkan dari pengalaman.
2. Sampel dan Pemilihan Instrumen
Sampel untuk studi korelasional dapat dipilih dengan memakai metode sampling yang bisa diterima, dan 30 subjek dirasa sebagai ukuran sampel minimal yang bisa diterima. Dalam suatu penilitian, merupakan hal penting untuk memilih dan mengembangkan pengukuran yang reliabel dan valid terhadap suatu variabel yang hendak diteliti. Bila variabel tidak memadai dikumpulkan, maka koefisien korelasi yang diperoleh akan mewakili estimasi tingkat korelasi yang kurang bahkan tidak akurat. Kemudian bila pengukuran yang dilakukan tidak secara nyata benar-benar mengukur variabel yang diinginkan, maka koefisien yang dihasilkan tidak akan mengindikasikan hubungan yang diinginkan.
Sebagai contoh, peniliti hendak menentukan hubungan antara hasil belajar matematika dengan hasil belajar kimia. Bila peneliti memilih dan memakai tes keterampilan berhitung yang valid dan reliabel, koefisien korelasi yang diperoleh tidak akan menjadi perkiraan yang akurat dari hubungan yang diinginkan. Keterampilan berhitung siswa hanya merupakan satu jenis ketrampilan hasil belajar matematika; koefisien korelasi yang diperoleh akan mengindikasikan hubungan antara hasil belajar kimia dan satu jenis dari hasil belajar matematika yaitu keterampilan berhitung. Oleh sebab itu, peneliti haruslah berhati-hati dalam memilih dan memakai instrumen yang valid dan reliabel bagi tujuan penelitian.
3. Desain dan Prosedur
Desain korelasional dasar sangatlah sederhana; 2 atau lebih skor yang didapatkan dari setiap jumlah sampel yang dipilih, 1 skor untuk setiap variabel yang diteliti, dan skor berpasangan kemudian dikorelasikan. Koefisien korelasi yang diperoleh mengindikasikan tingkatan atau derajat hubungan antara kedua variabel tersebut. Penelitian yang berbeda menyelidiki sejumlah variabel, dan beberapa penggunaan prosedur statistik yang kompleks, namun desain dasar tetaplah sama dalam semua penelitian korelasional
4. Analisis Data dan Interpretasi
Jika 2 variabel dikorelasikan maka hasilnya yaitu koefisien korelasi. Koefisien korelasi dalam bentuk angka desimal, antara 0,00 dan + 1,00, atau 0,00 dan – 1,00, yang mengindikasikan tingkat atau derajat hubungan antara 2 variabel. Bila koefisien mendekati + 1,00; maka kedua variabel tersebut memiliki hubungan yang positif. Hal ini dapat diartikan bahwa seseorang yang mempunyai skor yang tinggi pada suatu variabel tertentu akan mempunyai skor yang tinggi pula pada variabel yang lain. Dapat juga diartikan suatu peningkatan pada suatu variabel berhubungan atau diasosiasikan dengan peningkatan juga pada variabel lain.
Apabila koefisien korelasi mendekati 0,00 kedua variabel tersebut tidak mempunyai hubungan. Hal ini dapat diartikan bahwa skor seseorang pada suatu variabel tertentu tidak mengindikasikan skor orang tersebut pada variabel yang lain. Bila koefisien tersebut mendekati -1,00, maka diartikan kedua variabel memiliki hubungan yang berkebalikan atau negatif. Hal ini diartikan bahwa seseorang dengan skor tinggi pada suatu variabel tertentu akan mempunyai skor yang rendah pada variabel yang lain, atau peningkatan pada suatu variabel akan diasosiasikan dengan penurunan pada variabel lain, dan begitu juga sebaliknya.
Interpretasi suatu koefisien korelasi tergantung pada bagaimana koefisien tersebut akan digunakan. Dengan kata lain, seberapa besar koefisien tersebut diperlukan supaya bermanfaat tergantung pada tujuan perhitunganya. Dalam studi yang dirancang guna menyelidiki hubungan yang dihipotesiskan, suatu koefisien korelasi diinterprestasikan pada suatu istilah signifikansi statistiknya. Dalam penelitian prediksi, signifikansi statistik merupakan nilai kedua dari koefisien dalam memudahkan prediksi yang tepat dan akurat. Signifikansi statistik mengacu kepada, apakah koefisiensi yang didapatkan berbeda secara nyata dari zero (0) dan mencerminkan hubungan yang benar, bukan suatu kemungkinan hubungan, keputusan berdasarkan signifikansi statistik dihasilkan pada suatu level kemungkinan (probability) yang diberikan. Dengan kata lain, berdasarkan pada ukuran sampel yang diberikan, peneliti tidak bisa menentukan secara positif apakah ada atau tidak ada hubungan yang benar antara dua variabel, tetapi peneliti bisa mengatakan secara probabilitas ada atau tidak ada hubungan.
Untuk menentukan signifikansi statistik, peneliti hanya mengonsultasikanya pada sebuah tabel yang mampu mengatakan pada peneliti seberapa besar koefisiensi diperlukan untuk menjadi signifikan pada level probabilitas yang diberikan. Untuk suatu level probabillitas yang sama, atau level signifikansi yang sama, koefisien yang besar diperlukan jika sampel yang lebih kecil dilibatkan. Kita secara umum memiliki lebih banyak bukti dalam koefisien yang berdasarkan pada 100 subjek dari pada 10 subjek. Dengan demikian, sebagai contoh, pada level bukti 95% dengan 10 kasus, Peneliti akan membutuhkan sekurangnya koefisien 0,6319 supaya bisa menyimpulkan eksistensi suatu hubungan; pada pihak lain, dengan 102 kasus peneliti hanya memerlukan koefisiensi 0,1946. Konsep seperti ini berarti bahwa peneliti memerhatikan kasus tersebut, saat peneliti akan mengumpulkan data pada setiap anggota populasi, bukan hanya sampel. Dalam kasus ini, tidak ada kesimpulan yang dilibatkan, dan tanpa memerhatikan seberapa kecil koefisiensi korelasi yang ada, itu akan mewakili derajat korelasi yang benar antara variabel untuk populasi tersebut.
Ketika penginterprestasian suatu koefisien korelasi, peneliti harus selalu ingat bahwa peneliti hanya berbicara tentang suatu hubungan, bukan hubungan sebab-akibat. Koefisiensi korelasi yang signifikan mungkin menyarankan hubungan sebab-akibat akan tetapi tidak menetapkannya. Hanya ada 1 cara untuk menetapkan hubungan sebab-akibat, yaitu penelitian eksperimen. Jika seseorang menemukan hubungan yang dekat antara 2 variabel, hal tersebut sering kali menggoda untuk menyimpulkan bahwa 1 variabel menyebabkan variabel yang lain. Pada kenyataannya, hal itu mungkin tidak saling mempengaruhi; mungkin terdapat variabel ketiga yang mempengaruhi kedua variabel tersebut.
Macam-Macam Studi Korelasional
1. Studi Hubungan
Studi hubungan biasanya dilakukan dalam usaha mendapatkan pemahaman faktor apa saja atau variabel yang berhubungan dengan variabel yang kompleks, misalnya seperti hasil belajar akademik, konsep diri dan motivasi. Variabel yang diketahui tidak mempunyai hubungan dapat dieliminasi dari perhatian atau pertimbangan yang selanjutnya. Identifikasi variabel yang berhubungan dapat membantu beberapa tujuan utama. Pertama, studi hubungan dapat memberikan arah untuk melanjutkan studi kausal-komparatif ataupun eksperimental.
Dalam studi kausal - komparatif dan eksperimental, peneliti juga berkonsentrasi terhadap pengontrolan variabel selain variabel bebas, mungkin saja berhubungan dengan variabel terikat dan menyingkirkan pengaruhnya agar tidak bercampur dengan pengaruh variabel bebas. Studi hubungan dapat membantu peneliti mengidentifkasi variabel-variabel seperti itu, yang berguna untuk mengontrol, dan selanjutnya menyelidiki pengaruh variabel bebas yang sesungguhnya.
2. Studi Prediksi
Bila variabel mempunyai hubungan yang signifikan, skor pada satu variabel dapat dipakai untuk memprediksikan skor pada variabel yang lainnya. Sebagai contoh, Peringkat SMA, dapat dipakai untuk memprediksikan peringkat di perguruan tinggi. Variabel yang mendasar pembuatan dijadikan sebagai kriteria.
Studi prediksi sering dilakukan guna memudahkan dalam pengambilan suatu kesimpulan mengenai individu atau membantu dalam pemilihan individu. Studi prediksi juga dijalankan guna menguji hipotesis teoretis tentang variabel yang dipercaya menjadi pediktor pada suatu kriteria, dan guna menentukan validitas prediktif dari instrumen pengukuran individual. Sebagai contoh, hasil studi prediksi digunakan untuk memprediksikan level keberhasilan yang kemungkinan diperoleh individu pada mata pelajaran tertentu, mislanya aljabar pada tahun pertama untuk memprediksikan individu mana yang kemungkinan sukses di perguruan tinggi atau untuk memprediksikan dalam bidang studi mana seseorang individu mungkin yang paling sukses.
Bila beberapa variabel prediktor masing-masing mempunyai hubungan dengan suatu variabel kriteria, prediksi yang didasarkan pada kombinasi dari beberapa variabel tersebut akan lebih akurat daripada didasarkan hanya pada salah satu darinya. Sebagai contoh, prediksi kesuksesan di perguruan tinggi umumnya didasarkan pada kombinasi beberapa faktor, seperti rangking dalam peringkat kelas, peringkat SMA, dan skor pada ujian masuk perguruan tinggi. Meskipun terdapat beberapa perbedaan utama antara studi prediksi dengan studi hubungan, keduanya melibatkan penentuan hubungan antara sejumlah variabel yang diidentifikasi dan variabel kompleks.
3. Korelasi dan Kausalitas
Penelitian korelasional merupakan suatu studi bertujuan untuk mengungkapkan hubungan antar variabel melalui penggunaan statistik korelasional (r). Kuadrat dari koefisien korelasi akan menghasilkan varians yang dijelaskan (r-square). Suatu hubungan korelasional antara 2 variabel kadang kala merupakan hasil dari sumber lain, jadi peneliti haruslah hati-hati dan korelasi tidaklah harus menjelaskan sebab dan akibat. Bila suatu hubungan yang kuat ditemukan antara 2 variabel, kausalitas dapat diuji melalui pemakaian pendekatan eksperimental.
Berbagai rancangan penelitian korelasional umumnya didasarkan pada asumsi bahwa realitas lebih baik dideskripsikan sebagai suatu jaringan timbal balik dan penginteraksian daripada hubungan kausal. Sesuatu memengaruhi dan dipengaruhi oleh sesuatu yang lain. Jaringan hubungan ini tidak linier, seperti dalam penelitian eksperimental. Dengan demikian, dinamika suatu sistem-bagaimana setiap bagian yang lain-lebih penting kausalitas. Sebagai suatu kaidah, rancangan korelasional seperti analisis jalur (path analysis) dan rancangan panel lintas-akhir (cross-lagged panel designs) membolehkan pernyataan-pernyataan kausal. Penelitian korelasional adalah kuantitatif (ibid). 
Rancangan Penelitian Korelasional
Penelitian korelasional mempunyai bermacam jenis rancangan dianataranya, yaitu (1) korelasi bivariat, (2) regresi dan prediksi (3) regresi jamak, (4) analisis faktor, dan (5) rancangan korelasi yang digunakan untuk membuat kesimpulan kausal. (Shaughnessy & Zechmeister,2000:2-5). Rancangan penelitian tersebut dijelaskan sebagai berikut:
  1.    Korelasi Bivariat
Rancangan penelitian korelasi bivariat merupakan suatu rancangan penelitian yang memiliki tujuan untuk mendeskripsikan hubungan antara dua variabel. Hubungan antara 2 variabel tersebut diukur dan hubungan tersebut mempunyai tingkatan serta arah.
Tingkat hubungan menunjukkan bagaimana atau seberapa kuatnya hubungan tersebut, umumnya diungkapkan dalam angka antara -1 dan +1, tingkatan hubungan itu dinamakan koefisien korelasi. Korelai zero (0) mengindikasikan tidak adaanya hubungan antarvariabel. Koefisiensi korelasi yang bergerak ke arah -1 atau +1, merupakan korelasi sempurna pada kedua ekstrem. Arah hubungan diindikasikan dengan semakin tinggi skor pada suatu variabel, semakin tinggi pula skor pada variabel lain dan begitu pula sebaliknya. Hubungan antara prestasi dan motivasi belajar merupakan contoh korelasi positif. Sedangkan, hubungan antara sehat dan sres merupakan contoh korelasi negatif.
2.    Regresi dan Prediksi
Bila terdapat korelasi antara 2 variabel, dan peneliti mengetahui skor pada salah satu variabel, peneliti dapat meprediksikan skor pada variabel kedua. Regresi merujuk pada seberapa baik peneliti bisa membuat prediksi semacam ini. Sebagaimana pendekatan koefisien korelasi baik yang bernilai -1 maupun +1, prediksi peneliti dapat lebih baik. Sebagai contoh, terdapat hubungan antara kesehatan dan stres. Jika peneliti mengetahui skor stres seseorang, maka peneliti mampu memprediksikan skor kesehatan seseorang tersebut dimasa yang akan datang.
3.    Regresi Jamak (Multiple Regression)
Regresi jamak adalah perluasan regresi dan prediksi sederhana dengan menambahkan beberapa variabel. Kombinasi beberapa variabel ini dapat memberikan lebih  banyak kekuatan kepada peneliti untuk membuat prediksi yang lebih akurat. Apa yang peneliti prediksikan disebut variabel kriteria (criterion variabel). Apa yang peneliti gunakan untuk membuat prediksi, sedangkan variabel-variabel yang telah diketahui, disebut variabel prediktor (predictor variables).
Jika peneliti tidak hanya mengetahui skor stres, akan tetapi juga mengetahui skor perilaku kesehatan atau seberapa baik seseorang memperhatikan dirinya sendiri, dan bagaimana kesehatan seseorang selama ini secara umum sehat atau sakit, maka peneliti akan lebih dapat memprediksikan secara lebih tepat status kesehatan seseorang tersebut. Dengan demikian, terdapat tiga variabel prediktor stres, perilaku kesehatan, dan status kesehatan sebelumnya, dan satu variabel kriteria, yaitu kesehatan di masa akan datang.
4.    Analisis faktor
Prosedur statistik yang satu ini mengidentifikasi pola variabel yang ada. Sejumlah besar variabel dikorelasikan dan terdapatnya antar korelasi yang tinggi mengindikasikan suatu faktor penting yang umum.
Sebagai contoh, peneliti dapat mengukur sejumlah besar aspek kesehatan fisik, mental, emosi, dan spiritual. Setiap pertanyaan akan memberikan kepada peneliti suatu skor. Korelasi yang tinggi baik positif itu maupun negatif antara beberapa skor ini akan mengindikasikan faktor penting yang bersifat umum. Banyak pertanyaan berbeda yang dapat diberikan, yang kemungkinan dapat mengukur faktor kesehatan emosional. Dalam kasus ini akan terdapat korelasi yang tinggi antara pertanyaan tentang marah, depresi, cemas, dan seterusnya. Atau di lain pihak, bila masing-masing pertanyaan merupakan faktor terpisah, akan terdapat korelasi yang kecil antara pertanyaan yang berhubungan dengan marah, depresi, cemas, dan seterusnya.
5.    Rancangan Korelasional yang Digunakan untuk Menarik Kesimpulan Kausal
Terdapat 2 rancangan yang bisa digunakan guna membuat pernyataan-pernyataan tentang sebab dan akibat menggunakan metode korelasional. Rancangan tersebut yaitu rancangan analisis jalur (path analysis design) dan rancangan panel lintas-akhir (cross-lagged panel design).
Analisis jalur digunakan untuk menentukan yang mana dari sejumlah jalur yang menghubungkan satu variabel dengan variabel lainnya. Sebagai contoh, peneliti mengetahui adanya suatu hubungan antara kesehatan dan stres. Analsis jalur digunakan untuk memperlihatkan bahwa terdapat jalur kecil melalui psikologi, jalur utama yang berhubungan dengan kesehatan dan stres melalui perilaku sehat. Artinya kita mengetahui bahwa stres memengaruhi faktor-faktor psikologi seperti coronary dan fungsi-fungsi kekebalan. Kita juga mengetahui bahwa kita stres, kita menghentikan kehati-hatian terhadap diri kita, kita kurang tidur, makan kurang baik, gagal memperoleh latihan-latihan yang layak, dan seterusnya. Penelitian memperlihatkan bahwa terdapat hubungan yang lebih kuat antara stres, perilaku sehat, dan kesehatan daripada antara stres, psikologi, dan kesehatan. Penelitian ini menggunakan statistik korelasi untuk menggambarkan kesimpulan ini.
6.    Analisis Sistem (System Analysis)
Analisis sistem melibatkan penggunaan prosedur matemetik yang kompleks atau rumit guna menentukan proses dinamik, mislanya seperti perubahan sepanjang waktu, jerat umpan balik, serta aliran dan unsur hubungan. Sebagai contoh, sistem analisis digunakan untuk menggambarkan atau membuat diagram perbedaan antara SMP yang berhasil dan SMP yang gagal. Beberapa unsur dari sistem ini adalah harapan guru terhadap usaha pengajaran, performasi siswa, dan performasi siswa. Masing-masing unsur ini saling memengaruhi dan berubah sepanjang waktu.
Kesalahan dalam Penelitian Korelasional
Kesalahan-kesalahan yang sering kali dilakukan oleh peneliti dalam penelitian korelasional yaitusebagai berikut.
    Peneliti memilih statistik yang tidak tepat
    Peneliti berasumsi bahwa korelasi merupakan bukti sebab akibat
    Peneliti bertumpu pada pendekatan sekali tembak (shotgun approach)
    Peneliti tidak melakukan studi validitas silang
    Peneliti menggunakan analisis bivariat ketika multivariat yang lebih tepat
    Peneliti salah tafsir terhadap signifikansi praktis atau statistik dalam suatu studi.
    Peneliti menggunakan analisis jalur atau LISER tanpa peninjauan asumsi-asumsi (teori)
    Peneliti gagal menentukan suatu variabel kausal penting dalam perencanaan suatu analisis jalur

Kelebihan dan Kelemahan Penelitian Korelasional
Penelitian korelasional mempunyai kelebihan antara lain yaitu: kemampuannya untuk menyelidiki hubungan antara beberapa variabel secara bersama-sama (simultan); dan penelitian korelasional juga mampu memberikan informasi  tentang derajat kekuatan hubungan antara variabel-variabel yang diteliti. Selanjutnya, penelitian ini bermanfaat untuk mengatasi masalah yang berkaitan dengan bidang pendidikan, sosial, ekonomi. Penelitian korelasional ini juga memungkinkan untuk menyelidiki beberapa variabel yang diselidiki secara intensif dan penelitian ini bisa melakukan analisis prediksi tanpa membutuhkan sampel yang besar.
Sedangkan, untuk kelemahan penelitian korelasional diantaranya: hasilnya hanya mengidentifikasi sesuatu sejalan dengan sesuatu, tidak harus menunjukkan saling hubungan yang bersifat kausal; bila dibandingkan dengan penelitian eksperimental, penelitian korelasional ini kurang tertib dan ketat, karena kurang melakukan pengontrolan terhadap variabel-variabel bebasnya; pola saling berhubungan itu sering tidak menentu dan kabur atau kurang jelas; sering merangsang penggunanya sebagai semacam short-gun approach, yaitu memasukan berbagai data tanpa melakukan pemilihan dan menggunakan setiap interpretasi yang berguna atau bermakna.

Minggu, 22 Juli 2018

Tempat Wisata Pegatan

tempat wisata pegatan merupakan tempat wisata yang tersembunyi yang jarang diketahui oleh banyak orang. tempatnya yang jauh dan dan alat transfortasi yang terbatas membuat tempat ini sulit untuk dikunjungi.

Sabtu, 16 Desember 2017

KUMPULAN MAKALAH TEOLOGI GRATIS

assalamualaikum wr.....wb.
selamat pagi semuanya, gimana kabarnya hari ini alhamdulillah baik yah. ketemu lagi dengn saya yah. oke lansung saja saya akan membagikan kumpulan makalah teologi. di sini teman-teman bisa mendownload makalah teologi. oke untuk mendownloadnya lansung saja klik link berikut ini.
makalah teologi kelompok 1
makalah teologi kelompok 2
makalah teologi kelompok 3
makalah teologi kelompok 4
makalah teologi kelompok 5
makalah teologi kelompok 6
makalah teologi kelompok 7
makalah teologi kelompok 8
makalah teologi kelompok 9
makalah teologi kelompok 10
makalah teologi kelompok 11
makalah teologi kelompok 12
makalah teologi kelompok 13

Kamis, 14 Desember 2017

METODE PENDIDIKAN makalah tafsir tarbawi

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
      Pendidikan adalah suatu proses bantuan yang diberikan kepada peserta didik guna menumbuhkan dan mengembangkan jasmani maupun rohani secara optimal untuk mencapai tingkat kedewasaan.
      Berbicara tentang pendidikan yaitu berbicara tentang bagaaiman membentuk karakter manusia bagaimanapun caranya menjadi apa yang diinginkan. Sedangkan karakter akan terbentuk oleh berbagai faktor yang ada, dan di antaranya adalah lingkungan.
      Setiap orang memiliki karaktere yang berbeda disebabkan oleh karena mereka tumbuh di lingkungan yang berbeda. Jadi dapat dikaitkan bahwa dominasi lingkungan sangat berpengaruh terhadap pendidikan seseorang.

B.    Rumusan Masalah
1.     Apa pengertian Lingkungan Pendidikan?
2.     Bagaimana Lingkungan Pendidikan yang terkandung dalam  Al-Qur’an surah Assyuara, Al Kahfi, At Tahrim, An Nur, Ali Imran, dan Hud?
3.     Bagaimana Hadist yang menjelaskan tentang Lingkungan Pendidikan?
4.     Apa macam-macam jenis Lingkungan Pendidikan?

C.    Tujuan Penulisan
1.     Untuk mengetahui dan memahami pengertian Lingkungan Pendidikan.
2.     Untuk mengetahui kandungan Al-quran yang menjelaskan tentang Lingkungan Pendidikan.
3.     Untuk mengetahui Hadist yang berkaitan dengan Lingkungan Pendidikan.
4.     Untuk mengetahui dan memahami apa saja jenis pendidikan

D.    Metode Penulisan
      Adapun metode yang kami gunakan dalam menulis makalah ini ialah engan menggunakan metode kajian pustaka.

BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Lingkungan Pendidikan
      Lingkungan adalah segala sesuatu yang berada di sekitar manusia (peserta didik). Lingkungan dalam kaitan dengan pendidikan adalah segala sesuatu yang berada di luar diri peserta didik dalam alam semesta ini. Pengertian ini sejalan dengan pandangan Imam Bardani yang mengatakan bahwa lingkungan adalah segala keadaan yang ada di sekitar anak didik. Proses pndidikan dapat berlangsung bila ada wadahnya, lapangan atau lingkungan. Lingkungan dapat berupa manusia, dapat pula berupa non manusia seperti hewan dan tumbuhan. Bahkan ada pula sesuatu yang berada di luar diri manusia dan tidak tampak, tetapi pasti keberadaannya.
 Hal ini dapat diketahui dari kitab suci Alquran. Golongan ini meliputi jin dan malaikat. Di antara lingkungan tersebut terdapat beberapa lingkungan yang memiliki pengaruh besar dalam perkembangan peserta didik. Hal ini perlu diketahui agar dapat menentukan sikap dan bertindak sesuai dengan kebutuhan pendidikan.[1]

B.    Lingkungan pendidikan yang terkandung dalam  Al-Qur’an surah As Syu’ara, Al Kahfi, At Tahrim, An Nur, Ali Imran, dan Hud.
1.     Tafsir Al-Qur’an Surah As Syu’ara  Ayat : 18




Artinya : Fir’aun menjawab: “Bukanlah kami telah mengasuhmu di antara (keluarga) kami, waktu kamu masih kanak-kanak dan kamu tinggal bersama kami berapa tahun dari umurmu.”


            Ayat ini menyatakan bahwa “Bukankah kamu orang kami asuh dirumah kami, serta kami buat kamu hidup senang beberapa tahun. Tetapi setelah itu kamu balas kebaikan itu dengan perbuatanmu itu; kamu telah membunuh orang dari kami dan mengingkari kesenangan yangpernah kuberikan padamu. Firman diatas menunjukkan kepada kita bahwa arti dari pendidikan itu adalah mengasuh, menanggung memberi makan, mengembangkan, memelihara, membesarkan, mempertumbuhkan, memprodukdi dan menjinakkan. Namun dalam surah ini hanya menjelaskan tentang aspek jasmani saja.[2]

2.     Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Kahfi Ayat : 46





Artinya : “Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, akan tetapi amalan-amalan yang kekal lagi shalih adalah lebih baik pahalanya disisi Tuhanmu, serta labih baik untuk menjadi harapan.”

            Allah berfirman : ya Muhammad, ketaatan Salman, Shuhaib dan Hubaib kepada Allah, serta amalan yang kekal dan shalih setelah hancurnya kehidupan dunia, adalah lebih baik pahalanya bagimu disisi Tuhanmu dari harta dan anak yang dibggakan oleh orang-orang musyrik. Yang akan hancur dan tidak kekal bagi pemiliknya.
Dan diriwayatkan oleh dari Annas bin Malik bahwa telah datang kepada Aisyah seorang ibu bersama dua orang anaknya yang masih kecil. Aisyah memberikannya 3 potong kurma kepada wanita itu. Diberikan kepada anak-anaknya masing-masing satu, dan satunya untuk dirinya. Kedua kurma itu dimakan anaknya sampai habis, lalu mereka menoleh kearah ibunjya. Sang ibu  membelah kurma (bagiannya) menjadi dua, dan diberikannya masing-masing sebelah kepada dua anaknya.
Dan uraian diatas menegaskan bahwa wajib bagi orang tua menyelenggarakan pendidikan dalam rumah tangganya dan kewajiban itu wajar dan natural karena Allah menciptakan orang tu yang bersifat mencintai anaknya. Karena agama islam secara jelas mengingatkan kepada para orang tua untuk berhati-hati dalam memberikan pembinaan keluarga sakinah .[3]

3.     Tafsir Al-Qur’an Surah At Tahriim Ayat : 6





Artinya : ”Hai orang-orang yang beriman, perihalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-maliakat yang kasar, keras, dan tidak mendurhaka Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”
            Dalam ayat ini terdapat lafal perintah yang secara langsung dan tegas yaitu peliharalah/jagalah, hal ini dimaksudkan bahwa kewajiban setiap orang Mu’min salah satunya adalah menjaga dirinya dan keluarganyadari siksa api neraka dengan cara melaksanakan perintah dan taat kepada Allah SWT dan menjauhi segala larangannya. Merupakan tanggung jawab setap manusia untuk menjaga dirinya sendiri serta keluarganya., sebab manusia adalah pemimpin bagi dirinya sendirinya dan keluarganyayang nanti akan dimintai pertanggung jawabannya. Dan itu semua takkan bisa terjadi tanpa adanya pendidikan, dapat dapat disimpulkan bahwa keluarga merupakan objek pendidikan.[4]
Sebagaimana yang telah disinggung dalam konsep di atas, istri merupakan bagian dari keluarga dan merupakan salah satu komponen yang tidak terpisahkan dari komponen lainnya seperti suami, anak dan anggota keluarga lainnya.
Para istri atau ibu memaibkan peranan pentiing dalam pendidikan anak. Ibu adalah sekolah pertama bagi anak-nak dalam keeluarga. Perilaku, tutur sapa, dan kebiasaan yang dilakukan seorang ibu akan selalu menjadi rujukan atau ditiru anak, demikian pula dengan sikap dan perilaku ayah. Maka oleh sebab itu pendidkan dalam suatu keluarga mesti dimulai dari ayah dan ibu. Sebelum terjadinya perkawinan atau sebelum lahirny anak, ayah dan ibu harus sudah benar-benar siap membimbing anak-nak dan mempersiapkan diri untuk menjadi teladan positif bagi anak-anak.
Secara tegas ayat 6 Surah al-Tahrim di atas mengingatkan semua orang-orang mukmin agar mendidik diri dan keluarganya ke jalan yang benar agar terhindar dari neraka. Ayat tersebut mengandung perintah menjaga “qu” (jagalah). Perintah menjaga diri dan keluarga dari neraka berkonotasi terhadap perintah mendidik atau membimbing. Sebab didikan dan bimbingan yang dapat membuat diri dan keluarga konsisten dalam kebenaran, di mana konsisten dalam kebenaran itu membuat orang terhindar dari siksa neraka.[5]
Proses pendidikan keluarga pada hakikatnya dimulai semenjak pemilihan atau penentuan jodoh. Nabi Muhammad menitikberatkan agar memilih jodoh yang kuat iman dan keshalehannya. Sebab, suami dan istri atau ayah dan ibu mempunyai peranan yang sangat penting dalam pendidikan keluarga.[6]
Ada tiga tahap yang amat penting dipehatikan orangtua dalam melakukan pendidikan terhadap anak-anaknya. Pertama, ketika seorang ibu sedang mengandung. Pada saat kehamilan itu, orangtua terutama ibu mestilah meningkatkan intesitas dan kualitas komunikasinya dengan Allah karena bagaimanapun juga kondisi orangtua dapat mempengaruhi janin dalam kandungannya. Kedua, setelah lahir ia mesti dikomunikasikan juga kepada Allah. Nabi mengajarkan, agar orangtua mengazankan dan mengiqamahkan anak yang baru lahir. Dan tahap ketiga ketika anak sudah mulai dibesarkan dari hari ke hari dan seterusnya, ia mesti tumbuh dan berkembang dalam keshalehan lingkungan keluarga.[7]
Materi pelajaran atau pendidikan yang mesti diberikan kepada anak dalam keluarga adalah meliputi semua kajian keislaman yang menjadi fardhu’ain. Hal ini meliputi akidah, akhlak, dan hukum fiqh yang berkaitan dengan kewajiban sehari-hari.
4.     Tafsir Al- Qur’an Surah An Nur Ayat : 59





Artinya : Dan apabila anak-anakmu telah sampai umur balig, maka hendaklah mereka meminta izin, seperti orang-orang yang sebelum mereka meminta izin. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat-Nya. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”
Jika anak-anak kalian telah baligh, mereka harus meminta izin terlebih dahulu untuk masuk ke setiap rumah di setiap waktu, seperti halnya orang-orang yang tela baligh sebelum mereka. Dengan penjelasan semacam ini Allah menjelaskan kepada kalian ayat-ayat-Nya yang telah di turunkan. Allah swt Maha Mengetahui lagi Maha bijaksana. Dia mengetahui apa yang bermanfaat bagi hamba-hamba-Nya, memberikan ketentuan hukum yang sesuai dengan keadaan mereka dan akan meminta pertanggungjawaban itu  semua.[8]



5.     Tafsir Al-Qur’an Surah Ali Imran Ayat :110









Artinya : “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma´ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.”
Ayat ini mengandung suatu dorongan kepada kaum mukminin supaya tetap memelihara sifat-sifat utama itu dan supaya mereka tetap mempunyai semangat yang tinggi. Umat yang paling baik di dunia adalah umat yang mempunyai dua macam sifat, yaitu mengajak kebaikan serta mencegah kemungkaran, dan senantiasa beriman kepada Allah. Semua sifat itu telah dimiliki oleh kaum muslimin di masa nabi dan telah menjadi darah daging dalam diri mereka karena itu mereka menjadi kuat dan jaya.
Dalam waktu yang singkat mereka telah dapat menjadikan seluruh tanah Arab tunduk dan patuh di bawah naungan Islam, hidup aman dan tenteram di bawah panji-panji keadilan, padahal mereka sebelumnya adalah umat yang berpecah belah selalu berada dalam suasana kacau dan saling berperang antara sesama mereka. Ini adalah berkat keteguhan iman. dan kepatuhan mereka menjalankan ajaran agama dan berkat ketabahan dan keuletan mereka menegakkan amar makruf dan mencegah kemungkaran. Iman yang mendalam di hati mereka selalu mendorong untuk berjihad dan berjuang untuk menegakkan kebenaran dan keadilan.

6.     Tafsir Al Qur’an Surah Hud Ayat : 100-101








Artinya : Itu adalah sebahagian dari berita-berita negeri (yang telah dibinasakan) yang Kami ceritakan kepadamu (Muhammad); di antara negeri-negeri itu ada yang masih terdapat bekas-bekasnya dan ada (pula) yang telah musnah. (QS. 11:100) Dan Kami tidaklah menganiaya mereka, tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri, karena tiadalah bermanfaat sedikitpun kepada mereka ilah-ilah yang mereka seru selain Allah, di waktu adzab Rabbmu datang. Dan ilah-ilah itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali kebinasaan belaka. (QS. 11:101).”
Ketika Allah telah menyebutkan kabar para Nabi dan apa yang dihadapi mereka bersama umatnya dan bagaimana Allah membinasakan orang-orang kafir dan menyelamatkan orang-orang mukmin, Allah berfirman: dzaalika min amba-il quraa (“Itu adalah sebahagian dari berita-berita negeri [yang telah dibinasakan].”) Maksudnya, kabar tentang mereka.
Naqshush-Hu ‘alaika (“Kami ceritakan kepadamu [Muhammad]”) di antara negeri-negeri itu ada yang masih terdapat bekas-bekasnya. ” Maksudnya, masih ada. Wa hashiid (“Dan ada [pula] yang telah musnah.”) Maksudnya, telah hancur.
Wa maa dhalamnaahum (“Dan Kami tidaklah menganiaya mereka,”) maksudnya jika Kami membinasakan mereka. Wa laakin dhalamuu anfusahum (“Tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.”) Dengan kedustaan dan kekafiran mereka terhadap utusan-utusan Kami. Wamaa aghnat ‘anhum aalihatuhum (“Karena itulah tidak bermanfaat sedikit pun kepada mereka ilah-ilah mereka.”) Berhala-berhala mereka yang mereka beribadah dan berdo’a kepadanya; min duunillaahi min syai-in (“Sesuatupun selain Allah.”) Berhala-berhala itu tidak berguna dan tidak menyelamatkan mereka ketika mereka dibinasakan.
Wamaa zaaduu Hum ghaira tatbiib (“Dan ilah-ilah itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali kebinasaan belaka.”) Mujahid, Qatadah dan yang lainnya berkata: “Maksudnya, kecuali kerugian, itulah sebab kebinasaan dan kehancuran mereka, yaitu karena mereka mengikuti ilah-ilah itu, maka dari itu mereka rugi di dunia dan akhirat.”[9]

C.    Hadist yang menjelaskan tentang Lingkungan Pendidikan
Hadist Riwayat Imam Bukhari :












Artinya : Abu Hurairah RA.berkata: Nabi Muhammad SAW. bersabda:             “Tidak ada seorang anakpun yang terlahir kecuali ia dilahirkan dalam keadaan fitrah. Maka kemudian kedua orang tuanyalah yang akan menjadikan anak itu menjadi Yahudi, Nasrani, Majusi sebagaimana binatang ternak dengan sempurna. Apakah kalian mellihat ada cacat padanya?”. Kemudian Abu Hurairah RA. Berkata: Sebagai fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu, tidak ada perubahan menurut fitrah Allah, itulah agama yang lurus.” (HR. Bukhari).
Menurut pendapat yang masyhur, bahwa makna fitrah adalah islam. Menurut Abu Hurairah dan Ibnu Syihab  maknanya bahwa seorang anak dilahirkan dalam keadaan selamat dari kekufuran. Anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, yang mempercayai adanya Allah SWT. Itulah janji setiap jiwa kepada Allah tatkala masih dalam kandungan.
Maka fitrah adalah seperti yang disampaikan oleh Ibn Abd al-Bar dan Ibn ‘Athiyah, yaitu karakter ciptaan dan kesiapan yang ada pada diri anak ketika dilahirkan, yang menyediakan atau menyiapkan untuk mengidentifikasi ciptaan-ciptaan Allah dan menjadikan dalil pengakuan terhadap Rabb-Nya. Dan islam menjelaskan bahwa bayi yang baru lahir itu fitrah. Yang menjadikan Nasrani, Majusi adalah kedua orang tuanya.
Jadi dapat disimpulkan bahwa setelah anak di didik oleh kedua orang tuanya, maka pendidik selanjutnya adalah lingkungan. Tetapi Allah menciptakan manusia itu mempunyai naluri beragama yaitu agama tauhid. Kalau ada manusia tidak beragama tauhid, maka itu hanya pengaruh lingkungan, baik lingkungan keluarga maupun masyarakat.[10]

D.    Jenis Lingkungan Pendidikan
1.     Pengaruh Lingkungan Keluarga
Pendidikan keluarga adalah bimbingan atau pembelajaran yang diberikan terhadap anggota kumpulan suatu keturunan atau satu tempat tinggal. Dengan demikian keluarga tidak hanya suami, istri dan anak-anak tetapi juga mencakup kaum kerabat lainnya yang satu nasab, terutama yang tinggal dalam satu rumah.




2.     Pengaruh Lingkungan Teman
Menurut hadist yang diriwayatkan oleh At Tirmidzi dan Abu Dawud, yang artinya adalah
Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad bersabda, “seseorang itu mengikuti agama temannya. Oleh sebab itu, kamu har  us hati-hati terhadap temanmu.” (HR. At-tirmidzi dan Abu Dawud)
Menurut Muhammad Utsman Najati, selain orang tua, teman yang terdekat juga memiliki pengauh besar terhadap perkembangan perilaku anak, terutama masa remaja. Biasanya teman yang moralnya buruk kadang juga akan mempengaruhi orang yang sering menemaninya.
Teman sangat berarti bagi setiap manusia. Dari anak-anak smpai orang tua, baik laki-laki maupun perempuan, yang kaya ataupun miskin, baik yang saleh maupun durhaka, semuanya membutuhkan teman. Rasanya kebahagiaan itu tidak lengkap jika tidak memiliki teman.
Teman itu bervariasi, ada yang baik dan ada pula yang buruk. Teman yang baik inilah yang diidamkan karena mendatangkan kebaikan. Sebaliknya teman yang buruk  perlu dihindari karena sering membawa malapetaka.
Ada orang tua yang berusaha membimbing anaknya di rumah dengan sebaik-baiknya, tetapi ia terpengaruh oleh temannya yang berperilaku buruk sehingga ia menunjukkan perilaku buruk di depan orangtuanya. Oleh karena itu, memilih teman yang baik dan menjauhi teman yang buruk moralnya bagi anak-anak harus mendapat perhatian dari kdua orang tuanya.[11]

3.     Pengaruh Setan
Menurut An- nawawi, Berarti setan itu secara sembunyi-sembunyi pergi bersama manusia, selalu menyertai segala kondisi mereka, dan membawa mereka pada yang batil. Dalam mempengaruhi manusia, setan menggunakan berbagai strategi yang licik dan memanfaatkan saran yang ada dalam diri manusia, yaitu hawa nafsu. Dengan bujuk rayuannya, manusia kadang tidak menyadari bahwa keinginannya sudah dikendarai setan.

Dalam Alquran dikemukakan bahwa setan telah banyak menhancurkan kehidupan manusia, mulai dari manusia pertama sampai sekarang, bahkan sampai manusia di akhir zaman. Paling tidak terdapat 113 istilah dalam Alquran yang berarti setan. Di antaranya adalah sebagai berikut.
a.      Menggoda Adam dan Hawa sehingga keduanya dikeluarkan dari surga (QS. Al-Baqarah:36).
b.     Musuh yang nyata bagi manusia (QS. Al-Baqarah:168).
c.      Menyuruh manusia berbuat jahat dan keji (QS. A-Baqarah:169).
d.     Mengeluarkan manusia dari cahaya kepada kegelapan (QS. Al-Baqarah:257).
e.      Menakut-nakuti manusia (QS. Ali Imran:175).
f.      Menyesatkan manusia seejauh-jauhnya (QS. An-nisa:60).
g.     Mendorong manusia agar bermusuhan (Al-Maidah:91).
h.     Membisikkan pikiran jahat kepada manusia (Al-A’raf:20).
i.       Menipu manusia (Al-A’raf:27).[12]
Agar kita terhindar dari gangguan setan, manusia diperintahkan untuk selalu mendekatkan diri dan memohon pertolongan kepada Allah.










BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Setelah kami paparkan uraian diatas yang menjelaskan tentang lingkungan pendidikan. Didalam Al-Qur’an sudah jelas menerangkan tentang macam-macam lingkungan pendidikan. Bahwa lingkungan pendidikan yang paling mempengaruhi adalah lingkungan keluarga, jadi orang tua adalah orang pertama yang memberikan pengaruh besar terhadap perkembangan anaknya. Kemudian lingkungan masyarakat atau teman, itu juga sangat mempengaruhi kepribadian setiap anak. Jika dia dilingkungan yang baik maka dia akan memiliki kepribadian yang baik. Dan teman adalah factor yang juga mempengaruhi kepribadian anak, jika ia berteman dengan orang yang baik shaleh dan membawa kepada kebaikan seoarng anak akan mengikuti jejak temannya begitupun sebaliknya, jika ia berteman dengan yang mempunyai sifat buruk dia akan terpengaruh kepada prilaku tidak baik pula.
Oleh sebab itu didik lah anak sesuai dengan syariat islam dan besarkan ia sdilingkungan yang baik maka akan baik pula kepribadian seorang anak. Jadi lah orang tua yang bisa membawa anaknya dalam kebaikan.
B.    Saran
Demikian makalah yang kami buat, semoga dapat bermanfaat bagi pembaca. Apabila ada saran dan kritik yang ingin di sampaikan, silahkan sampaikan kepada kami. Apabila ada terdapat kesalahan mohon dapat mema’afkan dan memakluminya, karena kami adalah hamba Allah yang tak luput dari salah khilaf, dan lupa.








[1] Bukhari Umar. Hadis Tarbawi: Pendidikan dalam Perspektif Hadis. Jakarta: AMZAH, 2014, h.167.
[2] Al Qurthubi, Syaikh Imam, Tafsir Al Quthubi, Jakarta: IKAPI  DKI, 2009, h.231.
[3] Al Qurthubi, Syaikh Imam, Tafsir Al Quthubi, Jakarta: IKAPI  DKI, 2009, h.189-191.
[4] Az zuhaili, Wahbah, Tafsir Munir Jilid 14, Depok: Gema Insani, 2014, h. 691-692.
[5] Kadar M. Yusuf, Tafsir Tarbawi: Pesan-pesan Alquran Tentang Pendidikan, Jakarta: Amzah, 2013,      h.150-151.
.
[6] Ibid., h.152-153.
[7] Ibid., h.157.
[8] Al-Thabari, Ibn Jarir, Tafsir Jami’ al Bayan fi ta’wil al-Qur’an, juz 18, Mauqiu Majma’ al-Mulk: dalam Software al-Maktabah al-Syamilah, 2005.

[9] Al-Alusi, Shihab al-Din, Ruh al-Ma’ani fi Tafsir al-Qur’an al-Adzim, juz 3, Mauqiu Al-Tafasir: Dalam Software al-Maktabah al-Syamilah, 2005
[10] Khalfiah, yuliani, Modul Mata Kuliah Hadist Tarbawi, Palangkaraya. 2014, h. 17-20
[11] Bukhari Umar. Hadis tarbawi: pendidikan dalam perspektif hadis. Jakarta: AMZAH, 2014, h.170-    172.
[12] Ibid, h. 173-174.