Halaman1

Kamis, 14 Desember 2017

METODE PENDIDIKAN makalah tafsir tarbawi

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
      Pendidikan adalah suatu proses bantuan yang diberikan kepada peserta didik guna menumbuhkan dan mengembangkan jasmani maupun rohani secara optimal untuk mencapai tingkat kedewasaan.
      Berbicara tentang pendidikan yaitu berbicara tentang bagaaiman membentuk karakter manusia bagaimanapun caranya menjadi apa yang diinginkan. Sedangkan karakter akan terbentuk oleh berbagai faktor yang ada, dan di antaranya adalah lingkungan.
      Setiap orang memiliki karaktere yang berbeda disebabkan oleh karena mereka tumbuh di lingkungan yang berbeda. Jadi dapat dikaitkan bahwa dominasi lingkungan sangat berpengaruh terhadap pendidikan seseorang.

B.    Rumusan Masalah
1.     Apa pengertian Lingkungan Pendidikan?
2.     Bagaimana Lingkungan Pendidikan yang terkandung dalam  Al-Qur’an surah Assyuara, Al Kahfi, At Tahrim, An Nur, Ali Imran, dan Hud?
3.     Bagaimana Hadist yang menjelaskan tentang Lingkungan Pendidikan?
4.     Apa macam-macam jenis Lingkungan Pendidikan?

C.    Tujuan Penulisan
1.     Untuk mengetahui dan memahami pengertian Lingkungan Pendidikan.
2.     Untuk mengetahui kandungan Al-quran yang menjelaskan tentang Lingkungan Pendidikan.
3.     Untuk mengetahui Hadist yang berkaitan dengan Lingkungan Pendidikan.
4.     Untuk mengetahui dan memahami apa saja jenis pendidikan

D.    Metode Penulisan
      Adapun metode yang kami gunakan dalam menulis makalah ini ialah engan menggunakan metode kajian pustaka.

BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Lingkungan Pendidikan
      Lingkungan adalah segala sesuatu yang berada di sekitar manusia (peserta didik). Lingkungan dalam kaitan dengan pendidikan adalah segala sesuatu yang berada di luar diri peserta didik dalam alam semesta ini. Pengertian ini sejalan dengan pandangan Imam Bardani yang mengatakan bahwa lingkungan adalah segala keadaan yang ada di sekitar anak didik. Proses pndidikan dapat berlangsung bila ada wadahnya, lapangan atau lingkungan. Lingkungan dapat berupa manusia, dapat pula berupa non manusia seperti hewan dan tumbuhan. Bahkan ada pula sesuatu yang berada di luar diri manusia dan tidak tampak, tetapi pasti keberadaannya.
 Hal ini dapat diketahui dari kitab suci Alquran. Golongan ini meliputi jin dan malaikat. Di antara lingkungan tersebut terdapat beberapa lingkungan yang memiliki pengaruh besar dalam perkembangan peserta didik. Hal ini perlu diketahui agar dapat menentukan sikap dan bertindak sesuai dengan kebutuhan pendidikan.[1]

B.    Lingkungan pendidikan yang terkandung dalam  Al-Qur’an surah As Syu’ara, Al Kahfi, At Tahrim, An Nur, Ali Imran, dan Hud.
1.     Tafsir Al-Qur’an Surah As Syu’ara  Ayat : 18




Artinya : Fir’aun menjawab: “Bukanlah kami telah mengasuhmu di antara (keluarga) kami, waktu kamu masih kanak-kanak dan kamu tinggal bersama kami berapa tahun dari umurmu.”


            Ayat ini menyatakan bahwa “Bukankah kamu orang kami asuh dirumah kami, serta kami buat kamu hidup senang beberapa tahun. Tetapi setelah itu kamu balas kebaikan itu dengan perbuatanmu itu; kamu telah membunuh orang dari kami dan mengingkari kesenangan yangpernah kuberikan padamu. Firman diatas menunjukkan kepada kita bahwa arti dari pendidikan itu adalah mengasuh, menanggung memberi makan, mengembangkan, memelihara, membesarkan, mempertumbuhkan, memprodukdi dan menjinakkan. Namun dalam surah ini hanya menjelaskan tentang aspek jasmani saja.[2]

2.     Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Kahfi Ayat : 46





Artinya : “Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, akan tetapi amalan-amalan yang kekal lagi shalih adalah lebih baik pahalanya disisi Tuhanmu, serta labih baik untuk menjadi harapan.”

            Allah berfirman : ya Muhammad, ketaatan Salman, Shuhaib dan Hubaib kepada Allah, serta amalan yang kekal dan shalih setelah hancurnya kehidupan dunia, adalah lebih baik pahalanya bagimu disisi Tuhanmu dari harta dan anak yang dibggakan oleh orang-orang musyrik. Yang akan hancur dan tidak kekal bagi pemiliknya.
Dan diriwayatkan oleh dari Annas bin Malik bahwa telah datang kepada Aisyah seorang ibu bersama dua orang anaknya yang masih kecil. Aisyah memberikannya 3 potong kurma kepada wanita itu. Diberikan kepada anak-anaknya masing-masing satu, dan satunya untuk dirinya. Kedua kurma itu dimakan anaknya sampai habis, lalu mereka menoleh kearah ibunjya. Sang ibu  membelah kurma (bagiannya) menjadi dua, dan diberikannya masing-masing sebelah kepada dua anaknya.
Dan uraian diatas menegaskan bahwa wajib bagi orang tua menyelenggarakan pendidikan dalam rumah tangganya dan kewajiban itu wajar dan natural karena Allah menciptakan orang tu yang bersifat mencintai anaknya. Karena agama islam secara jelas mengingatkan kepada para orang tua untuk berhati-hati dalam memberikan pembinaan keluarga sakinah .[3]

3.     Tafsir Al-Qur’an Surah At Tahriim Ayat : 6





Artinya : ”Hai orang-orang yang beriman, perihalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-maliakat yang kasar, keras, dan tidak mendurhaka Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”
            Dalam ayat ini terdapat lafal perintah yang secara langsung dan tegas yaitu peliharalah/jagalah, hal ini dimaksudkan bahwa kewajiban setiap orang Mu’min salah satunya adalah menjaga dirinya dan keluarganyadari siksa api neraka dengan cara melaksanakan perintah dan taat kepada Allah SWT dan menjauhi segala larangannya. Merupakan tanggung jawab setap manusia untuk menjaga dirinya sendiri serta keluarganya., sebab manusia adalah pemimpin bagi dirinya sendirinya dan keluarganyayang nanti akan dimintai pertanggung jawabannya. Dan itu semua takkan bisa terjadi tanpa adanya pendidikan, dapat dapat disimpulkan bahwa keluarga merupakan objek pendidikan.[4]
Sebagaimana yang telah disinggung dalam konsep di atas, istri merupakan bagian dari keluarga dan merupakan salah satu komponen yang tidak terpisahkan dari komponen lainnya seperti suami, anak dan anggota keluarga lainnya.
Para istri atau ibu memaibkan peranan pentiing dalam pendidikan anak. Ibu adalah sekolah pertama bagi anak-nak dalam keeluarga. Perilaku, tutur sapa, dan kebiasaan yang dilakukan seorang ibu akan selalu menjadi rujukan atau ditiru anak, demikian pula dengan sikap dan perilaku ayah. Maka oleh sebab itu pendidkan dalam suatu keluarga mesti dimulai dari ayah dan ibu. Sebelum terjadinya perkawinan atau sebelum lahirny anak, ayah dan ibu harus sudah benar-benar siap membimbing anak-nak dan mempersiapkan diri untuk menjadi teladan positif bagi anak-anak.
Secara tegas ayat 6 Surah al-Tahrim di atas mengingatkan semua orang-orang mukmin agar mendidik diri dan keluarganya ke jalan yang benar agar terhindar dari neraka. Ayat tersebut mengandung perintah menjaga “qu” (jagalah). Perintah menjaga diri dan keluarga dari neraka berkonotasi terhadap perintah mendidik atau membimbing. Sebab didikan dan bimbingan yang dapat membuat diri dan keluarga konsisten dalam kebenaran, di mana konsisten dalam kebenaran itu membuat orang terhindar dari siksa neraka.[5]
Proses pendidikan keluarga pada hakikatnya dimulai semenjak pemilihan atau penentuan jodoh. Nabi Muhammad menitikberatkan agar memilih jodoh yang kuat iman dan keshalehannya. Sebab, suami dan istri atau ayah dan ibu mempunyai peranan yang sangat penting dalam pendidikan keluarga.[6]
Ada tiga tahap yang amat penting dipehatikan orangtua dalam melakukan pendidikan terhadap anak-anaknya. Pertama, ketika seorang ibu sedang mengandung. Pada saat kehamilan itu, orangtua terutama ibu mestilah meningkatkan intesitas dan kualitas komunikasinya dengan Allah karena bagaimanapun juga kondisi orangtua dapat mempengaruhi janin dalam kandungannya. Kedua, setelah lahir ia mesti dikomunikasikan juga kepada Allah. Nabi mengajarkan, agar orangtua mengazankan dan mengiqamahkan anak yang baru lahir. Dan tahap ketiga ketika anak sudah mulai dibesarkan dari hari ke hari dan seterusnya, ia mesti tumbuh dan berkembang dalam keshalehan lingkungan keluarga.[7]
Materi pelajaran atau pendidikan yang mesti diberikan kepada anak dalam keluarga adalah meliputi semua kajian keislaman yang menjadi fardhu’ain. Hal ini meliputi akidah, akhlak, dan hukum fiqh yang berkaitan dengan kewajiban sehari-hari.
4.     Tafsir Al- Qur’an Surah An Nur Ayat : 59





Artinya : Dan apabila anak-anakmu telah sampai umur balig, maka hendaklah mereka meminta izin, seperti orang-orang yang sebelum mereka meminta izin. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat-Nya. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”
Jika anak-anak kalian telah baligh, mereka harus meminta izin terlebih dahulu untuk masuk ke setiap rumah di setiap waktu, seperti halnya orang-orang yang tela baligh sebelum mereka. Dengan penjelasan semacam ini Allah menjelaskan kepada kalian ayat-ayat-Nya yang telah di turunkan. Allah swt Maha Mengetahui lagi Maha bijaksana. Dia mengetahui apa yang bermanfaat bagi hamba-hamba-Nya, memberikan ketentuan hukum yang sesuai dengan keadaan mereka dan akan meminta pertanggungjawaban itu  semua.[8]



5.     Tafsir Al-Qur’an Surah Ali Imran Ayat :110









Artinya : “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma´ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.”
Ayat ini mengandung suatu dorongan kepada kaum mukminin supaya tetap memelihara sifat-sifat utama itu dan supaya mereka tetap mempunyai semangat yang tinggi. Umat yang paling baik di dunia adalah umat yang mempunyai dua macam sifat, yaitu mengajak kebaikan serta mencegah kemungkaran, dan senantiasa beriman kepada Allah. Semua sifat itu telah dimiliki oleh kaum muslimin di masa nabi dan telah menjadi darah daging dalam diri mereka karena itu mereka menjadi kuat dan jaya.
Dalam waktu yang singkat mereka telah dapat menjadikan seluruh tanah Arab tunduk dan patuh di bawah naungan Islam, hidup aman dan tenteram di bawah panji-panji keadilan, padahal mereka sebelumnya adalah umat yang berpecah belah selalu berada dalam suasana kacau dan saling berperang antara sesama mereka. Ini adalah berkat keteguhan iman. dan kepatuhan mereka menjalankan ajaran agama dan berkat ketabahan dan keuletan mereka menegakkan amar makruf dan mencegah kemungkaran. Iman yang mendalam di hati mereka selalu mendorong untuk berjihad dan berjuang untuk menegakkan kebenaran dan keadilan.

6.     Tafsir Al Qur’an Surah Hud Ayat : 100-101








Artinya : Itu adalah sebahagian dari berita-berita negeri (yang telah dibinasakan) yang Kami ceritakan kepadamu (Muhammad); di antara negeri-negeri itu ada yang masih terdapat bekas-bekasnya dan ada (pula) yang telah musnah. (QS. 11:100) Dan Kami tidaklah menganiaya mereka, tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri, karena tiadalah bermanfaat sedikitpun kepada mereka ilah-ilah yang mereka seru selain Allah, di waktu adzab Rabbmu datang. Dan ilah-ilah itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali kebinasaan belaka. (QS. 11:101).”
Ketika Allah telah menyebutkan kabar para Nabi dan apa yang dihadapi mereka bersama umatnya dan bagaimana Allah membinasakan orang-orang kafir dan menyelamatkan orang-orang mukmin, Allah berfirman: dzaalika min amba-il quraa (“Itu adalah sebahagian dari berita-berita negeri [yang telah dibinasakan].”) Maksudnya, kabar tentang mereka.
Naqshush-Hu ‘alaika (“Kami ceritakan kepadamu [Muhammad]”) di antara negeri-negeri itu ada yang masih terdapat bekas-bekasnya. ” Maksudnya, masih ada. Wa hashiid (“Dan ada [pula] yang telah musnah.”) Maksudnya, telah hancur.
Wa maa dhalamnaahum (“Dan Kami tidaklah menganiaya mereka,”) maksudnya jika Kami membinasakan mereka. Wa laakin dhalamuu anfusahum (“Tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.”) Dengan kedustaan dan kekafiran mereka terhadap utusan-utusan Kami. Wamaa aghnat ‘anhum aalihatuhum (“Karena itulah tidak bermanfaat sedikit pun kepada mereka ilah-ilah mereka.”) Berhala-berhala mereka yang mereka beribadah dan berdo’a kepadanya; min duunillaahi min syai-in (“Sesuatupun selain Allah.”) Berhala-berhala itu tidak berguna dan tidak menyelamatkan mereka ketika mereka dibinasakan.
Wamaa zaaduu Hum ghaira tatbiib (“Dan ilah-ilah itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali kebinasaan belaka.”) Mujahid, Qatadah dan yang lainnya berkata: “Maksudnya, kecuali kerugian, itulah sebab kebinasaan dan kehancuran mereka, yaitu karena mereka mengikuti ilah-ilah itu, maka dari itu mereka rugi di dunia dan akhirat.”[9]

C.    Hadist yang menjelaskan tentang Lingkungan Pendidikan
Hadist Riwayat Imam Bukhari :












Artinya : Abu Hurairah RA.berkata: Nabi Muhammad SAW. bersabda:             “Tidak ada seorang anakpun yang terlahir kecuali ia dilahirkan dalam keadaan fitrah. Maka kemudian kedua orang tuanyalah yang akan menjadikan anak itu menjadi Yahudi, Nasrani, Majusi sebagaimana binatang ternak dengan sempurna. Apakah kalian mellihat ada cacat padanya?”. Kemudian Abu Hurairah RA. Berkata: Sebagai fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu, tidak ada perubahan menurut fitrah Allah, itulah agama yang lurus.” (HR. Bukhari).
Menurut pendapat yang masyhur, bahwa makna fitrah adalah islam. Menurut Abu Hurairah dan Ibnu Syihab  maknanya bahwa seorang anak dilahirkan dalam keadaan selamat dari kekufuran. Anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, yang mempercayai adanya Allah SWT. Itulah janji setiap jiwa kepada Allah tatkala masih dalam kandungan.
Maka fitrah adalah seperti yang disampaikan oleh Ibn Abd al-Bar dan Ibn ‘Athiyah, yaitu karakter ciptaan dan kesiapan yang ada pada diri anak ketika dilahirkan, yang menyediakan atau menyiapkan untuk mengidentifikasi ciptaan-ciptaan Allah dan menjadikan dalil pengakuan terhadap Rabb-Nya. Dan islam menjelaskan bahwa bayi yang baru lahir itu fitrah. Yang menjadikan Nasrani, Majusi adalah kedua orang tuanya.
Jadi dapat disimpulkan bahwa setelah anak di didik oleh kedua orang tuanya, maka pendidik selanjutnya adalah lingkungan. Tetapi Allah menciptakan manusia itu mempunyai naluri beragama yaitu agama tauhid. Kalau ada manusia tidak beragama tauhid, maka itu hanya pengaruh lingkungan, baik lingkungan keluarga maupun masyarakat.[10]

D.    Jenis Lingkungan Pendidikan
1.     Pengaruh Lingkungan Keluarga
Pendidikan keluarga adalah bimbingan atau pembelajaran yang diberikan terhadap anggota kumpulan suatu keturunan atau satu tempat tinggal. Dengan demikian keluarga tidak hanya suami, istri dan anak-anak tetapi juga mencakup kaum kerabat lainnya yang satu nasab, terutama yang tinggal dalam satu rumah.




2.     Pengaruh Lingkungan Teman
Menurut hadist yang diriwayatkan oleh At Tirmidzi dan Abu Dawud, yang artinya adalah
Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad bersabda, “seseorang itu mengikuti agama temannya. Oleh sebab itu, kamu har  us hati-hati terhadap temanmu.” (HR. At-tirmidzi dan Abu Dawud)
Menurut Muhammad Utsman Najati, selain orang tua, teman yang terdekat juga memiliki pengauh besar terhadap perkembangan perilaku anak, terutama masa remaja. Biasanya teman yang moralnya buruk kadang juga akan mempengaruhi orang yang sering menemaninya.
Teman sangat berarti bagi setiap manusia. Dari anak-anak smpai orang tua, baik laki-laki maupun perempuan, yang kaya ataupun miskin, baik yang saleh maupun durhaka, semuanya membutuhkan teman. Rasanya kebahagiaan itu tidak lengkap jika tidak memiliki teman.
Teman itu bervariasi, ada yang baik dan ada pula yang buruk. Teman yang baik inilah yang diidamkan karena mendatangkan kebaikan. Sebaliknya teman yang buruk  perlu dihindari karena sering membawa malapetaka.
Ada orang tua yang berusaha membimbing anaknya di rumah dengan sebaik-baiknya, tetapi ia terpengaruh oleh temannya yang berperilaku buruk sehingga ia menunjukkan perilaku buruk di depan orangtuanya. Oleh karena itu, memilih teman yang baik dan menjauhi teman yang buruk moralnya bagi anak-anak harus mendapat perhatian dari kdua orang tuanya.[11]

3.     Pengaruh Setan
Menurut An- nawawi, Berarti setan itu secara sembunyi-sembunyi pergi bersama manusia, selalu menyertai segala kondisi mereka, dan membawa mereka pada yang batil. Dalam mempengaruhi manusia, setan menggunakan berbagai strategi yang licik dan memanfaatkan saran yang ada dalam diri manusia, yaitu hawa nafsu. Dengan bujuk rayuannya, manusia kadang tidak menyadari bahwa keinginannya sudah dikendarai setan.

Dalam Alquran dikemukakan bahwa setan telah banyak menhancurkan kehidupan manusia, mulai dari manusia pertama sampai sekarang, bahkan sampai manusia di akhir zaman. Paling tidak terdapat 113 istilah dalam Alquran yang berarti setan. Di antaranya adalah sebagai berikut.
a.      Menggoda Adam dan Hawa sehingga keduanya dikeluarkan dari surga (QS. Al-Baqarah:36).
b.     Musuh yang nyata bagi manusia (QS. Al-Baqarah:168).
c.      Menyuruh manusia berbuat jahat dan keji (QS. A-Baqarah:169).
d.     Mengeluarkan manusia dari cahaya kepada kegelapan (QS. Al-Baqarah:257).
e.      Menakut-nakuti manusia (QS. Ali Imran:175).
f.      Menyesatkan manusia seejauh-jauhnya (QS. An-nisa:60).
g.     Mendorong manusia agar bermusuhan (Al-Maidah:91).
h.     Membisikkan pikiran jahat kepada manusia (Al-A’raf:20).
i.       Menipu manusia (Al-A’raf:27).[12]
Agar kita terhindar dari gangguan setan, manusia diperintahkan untuk selalu mendekatkan diri dan memohon pertolongan kepada Allah.










BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Setelah kami paparkan uraian diatas yang menjelaskan tentang lingkungan pendidikan. Didalam Al-Qur’an sudah jelas menerangkan tentang macam-macam lingkungan pendidikan. Bahwa lingkungan pendidikan yang paling mempengaruhi adalah lingkungan keluarga, jadi orang tua adalah orang pertama yang memberikan pengaruh besar terhadap perkembangan anaknya. Kemudian lingkungan masyarakat atau teman, itu juga sangat mempengaruhi kepribadian setiap anak. Jika dia dilingkungan yang baik maka dia akan memiliki kepribadian yang baik. Dan teman adalah factor yang juga mempengaruhi kepribadian anak, jika ia berteman dengan orang yang baik shaleh dan membawa kepada kebaikan seoarng anak akan mengikuti jejak temannya begitupun sebaliknya, jika ia berteman dengan yang mempunyai sifat buruk dia akan terpengaruh kepada prilaku tidak baik pula.
Oleh sebab itu didik lah anak sesuai dengan syariat islam dan besarkan ia sdilingkungan yang baik maka akan baik pula kepribadian seorang anak. Jadi lah orang tua yang bisa membawa anaknya dalam kebaikan.
B.    Saran
Demikian makalah yang kami buat, semoga dapat bermanfaat bagi pembaca. Apabila ada saran dan kritik yang ingin di sampaikan, silahkan sampaikan kepada kami. Apabila ada terdapat kesalahan mohon dapat mema’afkan dan memakluminya, karena kami adalah hamba Allah yang tak luput dari salah khilaf, dan lupa.








[1] Bukhari Umar. Hadis Tarbawi: Pendidikan dalam Perspektif Hadis. Jakarta: AMZAH, 2014, h.167.
[2] Al Qurthubi, Syaikh Imam, Tafsir Al Quthubi, Jakarta: IKAPI  DKI, 2009, h.231.
[3] Al Qurthubi, Syaikh Imam, Tafsir Al Quthubi, Jakarta: IKAPI  DKI, 2009, h.189-191.
[4] Az zuhaili, Wahbah, Tafsir Munir Jilid 14, Depok: Gema Insani, 2014, h. 691-692.
[5] Kadar M. Yusuf, Tafsir Tarbawi: Pesan-pesan Alquran Tentang Pendidikan, Jakarta: Amzah, 2013,      h.150-151.
.
[6] Ibid., h.152-153.
[7] Ibid., h.157.
[8] Al-Thabari, Ibn Jarir, Tafsir Jami’ al Bayan fi ta’wil al-Qur’an, juz 18, Mauqiu Majma’ al-Mulk: dalam Software al-Maktabah al-Syamilah, 2005.

[9] Al-Alusi, Shihab al-Din, Ruh al-Ma’ani fi Tafsir al-Qur’an al-Adzim, juz 3, Mauqiu Al-Tafasir: Dalam Software al-Maktabah al-Syamilah, 2005
[10] Khalfiah, yuliani, Modul Mata Kuliah Hadist Tarbawi, Palangkaraya. 2014, h. 17-20
[11] Bukhari Umar. Hadis tarbawi: pendidikan dalam perspektif hadis. Jakarta: AMZAH, 2014, h.170-    172.
[12] Ibid, h. 173-174.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar