assalamualaikum wr.....wb.
selamat pagi semuanya, gimana kabarnya hari ini alhamdulillah baik yah. ketemu lagi dengn saya yah. oke lansung saja saya akan membagikan kumpulan makalah teologi. di sini teman-teman bisa mendownload makalah teologi. oke untuk mendownloadnya lansung saja klik link berikut ini.
makalah teologi kelompok 1
makalah teologi kelompok 2
makalah teologi kelompok 3
makalah teologi kelompok 4
makalah teologi kelompok 5
makalah teologi kelompok 6
makalah teologi kelompok 7
makalah teologi kelompok 8
makalah teologi kelompok 9
makalah teologi kelompok 10
makalah teologi kelompok 11
makalah teologi kelompok 12
makalah teologi kelompok 13
Sabtu, 16 Desember 2017
Kamis, 14 Desember 2017
METODE PENDIDIKAN makalah tafsir tarbawi
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Pendidikan adalah suatu proses bantuan
yang diberikan kepada peserta didik guna menumbuhkan dan mengembangkan jasmani
maupun rohani secara optimal untuk mencapai tingkat kedewasaan.
Berbicara tentang pendidikan yaitu
berbicara tentang bagaaiman membentuk karakter manusia bagaimanapun caranya
menjadi apa yang diinginkan. Sedangkan karakter akan terbentuk oleh berbagai
faktor yang ada, dan di antaranya adalah lingkungan.
Setiap orang memiliki karaktere yang
berbeda disebabkan oleh karena mereka tumbuh di lingkungan yang berbeda. Jadi
dapat dikaitkan bahwa dominasi lingkungan sangat berpengaruh terhadap
pendidikan seseorang.
B.
Rumusan Masalah
1.
Apa pengertian Lingkungan Pendidikan?
2.
Bagaimana Lingkungan Pendidikan yang
terkandung dalam Al-Qur’an surah
Assyuara, Al Kahfi, At Tahrim, An Nur, Ali Imran, dan Hud?
3.
Bagaimana Hadist yang menjelaskan tentang
Lingkungan Pendidikan?
4.
Apa macam-macam jenis Lingkungan Pendidikan?
C.
Tujuan Penulisan
1.
Untuk
mengetahui dan memahami pengertian Lingkungan Pendidikan.
2.
Untuk mengetahui kandungan Al-quran yang
menjelaskan tentang Lingkungan Pendidikan.
3.
Untuk mengetahui Hadist yang berkaitan
dengan Lingkungan Pendidikan.
4.
Untuk
mengetahui dan memahami apa saja jenis pendidikan
D.
Metode Penulisan
Adapun metode yang kami gunakan dalam
menulis makalah ini ialah engan menggunakan metode kajian pustaka.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Lingkungan Pendidikan
Lingkungan adalah segala sesuatu yang
berada di sekitar manusia (peserta didik). Lingkungan dalam kaitan dengan
pendidikan adalah segala sesuatu yang berada di luar diri peserta didik dalam
alam semesta ini. Pengertian ini sejalan dengan pandangan Imam Bardani yang
mengatakan bahwa lingkungan adalah segala keadaan yang ada di sekitar anak
didik. Proses pndidikan dapat berlangsung bila ada wadahnya, lapangan atau
lingkungan. Lingkungan dapat berupa manusia, dapat pula berupa non manusia
seperti hewan dan tumbuhan. Bahkan ada pula sesuatu yang berada di luar diri
manusia dan tidak tampak, tetapi pasti keberadaannya.
Hal ini dapat diketahui dari
kitab suci Alquran. Golongan ini meliputi jin dan malaikat. Di antara
lingkungan tersebut terdapat beberapa lingkungan yang memiliki pengaruh besar
dalam perkembangan peserta didik. Hal ini perlu diketahui agar dapat menentukan
sikap dan bertindak sesuai dengan kebutuhan pendidikan.[1]
B.
Lingkungan
pendidikan yang terkandung dalam Al-Qur’an
surah As Syu’ara, Al Kahfi, At Tahrim, An Nur, Ali Imran, dan Hud.
1. Tafsir
Al-Qur’an Surah As Syu’ara Ayat : 18
Artinya : Fir’aun
menjawab: “Bukanlah kami telah mengasuhmu di antara (keluarga) kami, waktu kamu
masih kanak-kanak dan kamu tinggal bersama kami berapa tahun dari umurmu.”
Ayat
ini menyatakan bahwa “Bukankah kamu orang kami asuh dirumah kami, serta kami
buat kamu hidup senang beberapa tahun. Tetapi setelah itu kamu balas kebaikan
itu dengan perbuatanmu itu; kamu telah membunuh orang dari kami dan mengingkari
kesenangan yangpernah kuberikan padamu. Firman diatas menunjukkan kepada kita
bahwa arti dari pendidikan itu adalah mengasuh, menanggung memberi makan,
mengembangkan, memelihara, membesarkan, mempertumbuhkan, memprodukdi dan
menjinakkan. Namun dalam surah ini hanya menjelaskan tentang aspek jasmani
saja.[2]
2. Tafsir Al-Qur’an
Surah Al-Kahfi Ayat : 46
Artinya : “Harta
dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, akan tetapi amalan-amalan yang
kekal lagi shalih adalah lebih baik pahalanya disisi Tuhanmu, serta labih baik
untuk menjadi harapan.”
Allah
berfirman : ya Muhammad, ketaatan Salman, Shuhaib dan Hubaib kepada Allah,
serta amalan yang kekal dan shalih setelah hancurnya kehidupan dunia, adalah
lebih baik pahalanya bagimu disisi Tuhanmu dari harta dan anak yang dibggakan
oleh orang-orang musyrik. Yang akan hancur dan tidak kekal bagi pemiliknya.
Dan diriwayatkan oleh dari Annas bin Malik
bahwa telah datang kepada Aisyah seorang ibu bersama dua orang anaknya yang
masih kecil. Aisyah memberikannya 3 potong kurma kepada wanita itu. Diberikan
kepada anak-anaknya masing-masing satu, dan satunya untuk dirinya. Kedua kurma
itu dimakan anaknya sampai habis, lalu mereka menoleh kearah ibunjya. Sang
ibu membelah kurma (bagiannya) menjadi
dua, dan diberikannya masing-masing sebelah kepada dua anaknya.
Dan uraian diatas menegaskan bahwa wajib
bagi orang tua menyelenggarakan pendidikan dalam rumah tangganya dan kewajiban
itu wajar dan natural karena Allah menciptakan orang tu yang bersifat mencintai
anaknya. Karena agama islam secara jelas mengingatkan kepada para orang tua
untuk berhati-hati dalam memberikan pembinaan keluarga sakinah .[3]
3. Tafsir
Al-Qur’an Surah At Tahriim Ayat : 6
Artinya : ”Hai
orang-orang yang beriman, perihalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang
bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-maliakat yang
kasar, keras, dan tidak mendurhaka Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya
kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”
Dalam
ayat ini terdapat lafal perintah yang secara langsung dan tegas yaitu peliharalah/jagalah,
hal ini dimaksudkan bahwa kewajiban setiap orang Mu’min salah satunya adalah
menjaga dirinya dan keluarganyadari siksa api neraka dengan cara melaksanakan
perintah dan taat kepada Allah SWT dan menjauhi segala larangannya. Merupakan
tanggung jawab setap manusia untuk menjaga dirinya sendiri serta keluarganya.,
sebab manusia adalah pemimpin bagi dirinya sendirinya dan keluarganyayang nanti
akan dimintai pertanggung jawabannya. Dan itu semua takkan bisa terjadi tanpa
adanya pendidikan, dapat dapat disimpulkan bahwa keluarga merupakan objek
pendidikan.[4]
Sebagaimana yang
telah disinggung dalam konsep di atas, istri merupakan bagian dari keluarga dan
merupakan salah satu komponen yang tidak terpisahkan dari komponen lainnya
seperti suami, anak dan anggota keluarga lainnya.
Para istri atau ibu memaibkan peranan pentiing dalam pendidikan
anak. Ibu adalah sekolah pertama bagi anak-nak dalam keeluarga. Perilaku, tutur
sapa, dan kebiasaan yang dilakukan seorang ibu akan selalu menjadi rujukan atau
ditiru anak, demikian pula dengan sikap dan perilaku ayah. Maka oleh sebab itu
pendidkan dalam suatu keluarga mesti dimulai dari ayah dan ibu. Sebelum
terjadinya perkawinan atau sebelum lahirny anak, ayah dan ibu harus sudah
benar-benar siap membimbing anak-nak dan mempersiapkan diri untuk menjadi
teladan positif bagi anak-anak.
Secara tegas ayat 6 Surah al-Tahrim di atas mengingatkan semua
orang-orang mukmin agar mendidik diri dan keluarganya ke jalan yang benar agar
terhindar dari neraka. Ayat tersebut mengandung perintah menjaga “qu”
(jagalah). Perintah menjaga diri dan keluarga dari neraka berkonotasi terhadap
perintah mendidik atau membimbing. Sebab didikan dan bimbingan yang dapat
membuat diri dan keluarga konsisten dalam kebenaran, di mana konsisten dalam kebenaran
itu membuat orang terhindar dari siksa neraka.[5]
Proses pendidikan keluarga pada hakikatnya dimulai semenjak
pemilihan atau penentuan jodoh. Nabi Muhammad menitikberatkan agar memilih
jodoh yang kuat iman dan keshalehannya. Sebab, suami dan istri atau ayah dan
ibu mempunyai peranan yang sangat penting dalam pendidikan keluarga.[6]
Ada
tiga tahap yang amat penting dipehatikan orangtua dalam melakukan pendidikan
terhadap anak-anaknya. Pertama, ketika seorang ibu sedang mengandung.
Pada saat kehamilan itu, orangtua terutama ibu mestilah meningkatkan intesitas
dan kualitas komunikasinya dengan Allah karena bagaimanapun juga kondisi
orangtua dapat mempengaruhi janin dalam kandungannya. Kedua, setelah
lahir ia mesti dikomunikasikan juga kepada Allah. Nabi mengajarkan, agar
orangtua mengazankan dan mengiqamahkan anak yang baru lahir. Dan tahap ketiga
ketika anak sudah mulai dibesarkan dari hari ke
hari dan seterusnya, ia mesti tumbuh dan berkembang dalam keshalehan lingkungan
keluarga.[7]
Materi pelajaran atau pendidikan
yang mesti diberikan kepada anak dalam keluarga adalah meliputi semua kajian
keislaman yang menjadi fardhu’ain. Hal ini meliputi akidah, akhlak, dan hukum
fiqh yang berkaitan dengan kewajiban sehari-hari.
4. Tafsir Al-
Qur’an Surah An Nur Ayat : 59
Artinya
: “Dan apabila anak-anakmu telah sampai umur
balig, maka hendaklah mereka meminta izin, seperti orang-orang yang sebelum
mereka meminta izin. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat-Nya. Dan Allah
Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”
Jika anak-anak kalian telah
baligh, mereka harus meminta izin terlebih dahulu untuk masuk ke setiap rumah
di setiap waktu, seperti halnya orang-orang yang tela baligh sebelum mereka.
Dengan penjelasan semacam ini Allah menjelaskan kepada kalian ayat-ayat-Nya yang
telah di turunkan. Allah swt Maha Mengetahui lagi Maha bijaksana. Dia
mengetahui apa yang bermanfaat bagi hamba-hamba-Nya, memberikan ketentuan hukum
yang sesuai dengan keadaan mereka dan akan meminta pertanggungjawaban itu semua.[8]
5.
Tafsir Al-Qur’an Surah Ali Imran Ayat
:110
Artinya : “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh
kepada yang ma´ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.
Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara
mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.”
Ayat ini mengandung suatu dorongan
kepada kaum mukminin supaya tetap memelihara sifat-sifat utama itu dan supaya
mereka tetap mempunyai semangat yang tinggi. Umat yang paling baik di
dunia adalah umat yang mempunyai dua macam sifat, yaitu mengajak kebaikan serta
mencegah kemungkaran, dan senantiasa beriman kepada Allah. Semua sifat itu
telah dimiliki oleh kaum muslimin di masa nabi dan telah menjadi darah daging
dalam diri mereka karena itu mereka menjadi kuat dan jaya.
Dalam waktu yang singkat mereka telah
dapat menjadikan seluruh tanah Arab tunduk dan patuh di bawah naungan Islam,
hidup aman dan tenteram di bawah panji-panji keadilan, padahal mereka sebelumnya
adalah umat yang berpecah belah selalu berada dalam suasana kacau dan saling
berperang antara sesama mereka. Ini adalah berkat keteguhan iman. dan kepatuhan
mereka menjalankan ajaran agama dan berkat ketabahan dan keuletan mereka
menegakkan amar makruf dan mencegah kemungkaran. Iman yang mendalam di hati
mereka selalu mendorong untuk berjihad dan berjuang untuk menegakkan kebenaran
dan keadilan.
6. Tafsir Al
Qur’an Surah Hud Ayat : 100-101
Artinya : “Itu adalah sebahagian dari berita-berita
negeri (yang telah dibinasakan) yang Kami ceritakan kepadamu (Muhammad); di
antara negeri-negeri itu ada yang masih terdapat bekas-bekasnya dan ada (pula)
yang telah musnah. (QS. 11:100) Dan Kami tidaklah menganiaya mereka, tetapi
merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri, karena tiadalah bermanfaat
sedikitpun kepada mereka ilah-ilah yang mereka seru selain Allah, di waktu
adzab Rabbmu datang. Dan ilah-ilah itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali
kebinasaan belaka. (QS. 11:101).”
Ketika
Allah telah menyebutkan kabar para Nabi dan apa yang dihadapi mereka bersama
umatnya dan bagaimana Allah membinasakan orang-orang kafir dan menyelamatkan
orang-orang mukmin, Allah berfirman: dzaalika min amba-il quraa (“Itu adalah
sebahagian dari berita-berita negeri [yang telah dibinasakan].”) Maksudnya,
kabar tentang mereka.
Naqshush-Hu ‘alaika (“Kami ceritakan kepadamu [Muhammad]”) di antara negeri-negeri itu ada yang masih terdapat bekas-bekasnya. ” Maksudnya, masih ada. Wa hashiid (“Dan ada [pula] yang telah musnah.”) Maksudnya, telah hancur.
Naqshush-Hu ‘alaika (“Kami ceritakan kepadamu [Muhammad]”) di antara negeri-negeri itu ada yang masih terdapat bekas-bekasnya. ” Maksudnya, masih ada. Wa hashiid (“Dan ada [pula] yang telah musnah.”) Maksudnya, telah hancur.
Wa maa
dhalamnaahum (“Dan Kami tidaklah menganiaya mereka,”) maksudnya jika Kami
membinasakan mereka. Wa laakin dhalamuu anfusahum (“Tetapi merekalah yang menganiaya
diri mereka sendiri.”) Dengan kedustaan dan kekafiran mereka terhadap utusan-utusan
Kami. Wamaa aghnat ‘anhum aalihatuhum (“Karena itulah tidak bermanfaat sedikit
pun kepada mereka ilah-ilah mereka.”) Berhala-berhala mereka yang mereka
beribadah dan berdo’a kepadanya; min duunillaahi min syai-in (“Sesuatupun selain
Allah.”) Berhala-berhala itu tidak berguna dan tidak menyelamatkan mereka
ketika mereka dibinasakan.
Wamaa
zaaduu Hum ghaira tatbiib (“Dan ilah-ilah itu tidaklah menambah kepada mereka
kecuali kebinasaan belaka.”) Mujahid, Qatadah dan yang lainnya berkata:
“Maksudnya, kecuali kerugian, itulah sebab kebinasaan dan kehancuran mereka,
yaitu karena mereka mengikuti ilah-ilah itu, maka dari itu mereka rugi di dunia
dan akhirat.”[9]
C. Hadist yang
menjelaskan tentang Lingkungan Pendidikan
Hadist Riwayat Imam Bukhari :
Artinya : Abu Hurairah RA.berkata: Nabi Muhammad SAW.
bersabda: “Tidak ada seorang
anakpun yang terlahir kecuali ia dilahirkan dalam keadaan fitrah. Maka kemudian
kedua orang tuanyalah yang akan menjadikan anak itu menjadi Yahudi, Nasrani,
Majusi sebagaimana binatang ternak dengan sempurna. Apakah kalian mellihat ada
cacat padanya?”. Kemudian Abu Hurairah RA. Berkata: Sebagai fitrah Allah yang
telah menciptakan manusia menurut fitrah itu, tidak ada perubahan menurut
fitrah Allah, itulah agama yang lurus.” (HR. Bukhari).
Menurut pendapat yang masyhur, bahwa makna fitrah adalah islam. Menurut
Abu Hurairah dan Ibnu Syihab maknanya
bahwa seorang anak dilahirkan dalam keadaan selamat dari kekufuran. Anak dilahirkan
dalam keadaan fitrah, yang mempercayai adanya Allah SWT. Itulah janji setiap
jiwa kepada Allah tatkala masih dalam kandungan.
Maka fitrah adalah seperti yang disampaikan oleh Ibn Abd al-Bar dan Ibn
‘Athiyah, yaitu karakter ciptaan dan kesiapan yang ada pada diri anak ketika dilahirkan,
yang menyediakan atau menyiapkan untuk mengidentifikasi ciptaan-ciptaan Allah
dan menjadikan dalil pengakuan terhadap Rabb-Nya. Dan islam menjelaskan bahwa bayi
yang baru lahir itu fitrah. Yang menjadikan Nasrani, Majusi adalah kedua orang
tuanya.
Jadi dapat disimpulkan bahwa setelah anak di didik oleh kedua orang tuanya,
maka pendidik selanjutnya adalah lingkungan. Tetapi Allah menciptakan manusia
itu mempunyai naluri beragama yaitu agama tauhid. Kalau ada manusia tidak
beragama tauhid, maka itu hanya pengaruh lingkungan, baik lingkungan keluarga
maupun masyarakat.[10]
D.
Jenis Lingkungan Pendidikan
1.
Pengaruh
Lingkungan Keluarga
Pendidikan keluarga adalah bimbingan
atau pembelajaran yang diberikan terhadap anggota kumpulan suatu keturunan atau
satu tempat tinggal. Dengan demikian keluarga tidak hanya suami, istri dan
anak-anak tetapi juga mencakup kaum kerabat lainnya yang satu nasab, terutama
yang tinggal dalam satu rumah.
2. Pengaruh Lingkungan Teman
Menurut hadist yang diriwayatkan oleh At Tirmidzi
dan Abu Dawud, yang artinya adalah
Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Nabi
Muhammad bersabda, “seseorang itu mengikuti agama temannya. Oleh sebab itu, kamu har us hati-hati terhadap temanmu.” (HR.
At-tirmidzi dan Abu Dawud)
Menurut Muhammad Utsman Najati, selain orang tua, teman yang
terdekat juga memiliki pengauh besar terhadap perkembangan perilaku anak,
terutama masa remaja. Biasanya teman yang moralnya buruk kadang juga akan
mempengaruhi orang yang sering menemaninya.
Teman sangat berarti bagi setiap manusia. Dari anak-anak smpai
orang tua, baik laki-laki maupun perempuan, yang kaya ataupun miskin, baik yang
saleh maupun durhaka, semuanya membutuhkan teman. Rasanya kebahagiaan
itu tidak lengkap jika tidak memiliki teman.
Teman itu bervariasi, ada yang baik dan ada pula yang buruk. Teman
yang baik inilah yang diidamkan karena mendatangkan kebaikan. Sebaliknya teman
yang buruk perlu dihindari karena sering
membawa malapetaka.
Ada orang tua yang berusaha membimbing anaknya di rumah dengan sebaik-baiknya,
tetapi ia terpengaruh oleh temannya yang berperilaku buruk sehingga ia
menunjukkan perilaku buruk di depan orangtuanya. Oleh karena itu, memilih teman
yang baik dan menjauhi teman yang buruk moralnya bagi anak-anak harus mendapat
perhatian dari kdua orang tuanya.[11]
3.
Pengaruh
Setan
Menurut An- nawawi, Berarti setan itu secara sembunyi-sembunyi
pergi bersama manusia, selalu menyertai segala kondisi mereka, dan membawa mereka
pada yang batil. Dalam mempengaruhi manusia, setan menggunakan berbagai
strategi yang licik dan memanfaatkan saran yang ada dalam diri manusia, yaitu
hawa nafsu. Dengan bujuk rayuannya, manusia kadang tidak menyadari bahwa
keinginannya sudah dikendarai setan.
Dalam Alquran dikemukakan bahwa setan telah banyak menhancurkan
kehidupan manusia, mulai dari manusia pertama sampai sekarang, bahkan sampai
manusia di akhir zaman. Paling tidak terdapat 113 istilah dalam Alquran yang
berarti setan. Di antaranya adalah sebagai berikut.
a.
Menggoda
Adam dan Hawa sehingga keduanya dikeluarkan dari surga (QS. Al-Baqarah:36).
b.
Musuh
yang nyata bagi manusia (QS. Al-Baqarah:168).
c.
Menyuruh
manusia berbuat jahat dan keji (QS. A-Baqarah:169).
d.
Mengeluarkan
manusia dari cahaya kepada kegelapan (QS. Al-Baqarah:257).
e.
Menakut-nakuti
manusia (QS. Ali Imran:175).
f.
Menyesatkan
manusia seejauh-jauhnya (QS. An-nisa:60).
g.
Mendorong
manusia agar bermusuhan (Al-Maidah:91).
h.
Membisikkan
pikiran jahat kepada manusia (Al-A’raf:20).
i.
Menipu
manusia (Al-A’raf:27).[12]
Agar
kita terhindar dari gangguan setan, manusia diperintahkan untuk selalu
mendekatkan diri dan memohon pertolongan kepada Allah.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Setelah kami paparkan uraian diatas yang menjelaskan tentang lingkungan pendidikan.
Didalam Al-Qur’an sudah jelas menerangkan tentang macam-macam lingkungan
pendidikan. Bahwa lingkungan pendidikan yang paling mempengaruhi adalah
lingkungan keluarga, jadi orang tua adalah orang pertama yang memberikan
pengaruh besar terhadap perkembangan anaknya. Kemudian lingkungan masyarakat
atau teman, itu juga sangat mempengaruhi kepribadian setiap anak. Jika dia
dilingkungan yang baik maka dia akan memiliki kepribadian yang baik. Dan teman
adalah factor yang juga mempengaruhi kepribadian anak, jika ia berteman dengan
orang yang baik shaleh dan membawa kepada kebaikan seoarng anak akan mengikuti
jejak temannya begitupun sebaliknya, jika ia berteman dengan yang mempunyai
sifat buruk dia akan terpengaruh kepada prilaku tidak baik pula.
Oleh sebab itu didik lah anak sesuai dengan syariat islam dan besarkan
ia sdilingkungan
yang baik maka akan baik pula kepribadian seorang anak. Jadi lah orang tua yang
bisa membawa anaknya dalam kebaikan.
B.
Saran
Demikian makalah yang kami buat, semoga dapat bermanfaat bagi pembaca.
Apabila ada saran dan kritik yang ingin di sampaikan, silahkan sampaikan kepada
kami. Apabila ada terdapat kesalahan mohon dapat mema’afkan dan memakluminya,
karena kami adalah hamba Allah yang tak luput dari salah khilaf, dan lupa.
[2] Al Qurthubi, Syaikh Imam, Tafsir Al Quthubi, Jakarta: IKAPI DKI, 2009, h.231.
[4] Az zuhaili,
Wahbah, Tafsir Munir Jilid 14, Depok:
Gema Insani, 2014, h. 691-692.
[5] Kadar M. Yusuf, Tafsir Tarbawi: Pesan-pesan Alquran Tentang
Pendidikan, Jakarta: Amzah, 2013, h.150-151.
.
[6] Ibid.,
h.152-153.
[7] Ibid.,
h.157.
[8] Al-Thabari, Ibn Jarir, Tafsir
Jami’ al Bayan fi ta’wil al-Qur’an, juz 18, Mauqiu Majma’ al-Mulk:
dalam Software al-Maktabah al-Syamilah, 2005.
[9]
Al-Alusi, Shihab al-Din, Ruh al-Ma’ani fi Tafsir
al-Qur’an al-Adzim, juz 3, Mauqiu Al-Tafasir: Dalam Software al-Maktabah
al-Syamilah, 2005
[11]
Bukhari Umar. Hadis
tarbawi: pendidikan dalam perspektif hadis. Jakarta: AMZAH, 2014, h.170- 172.
Langganan:
Komentar (Atom)